Sunday, August 5, 2012


Ini tentang ahlul ghurur. Manusia-manusia yang tertipu laju waktu dalam perjalanan menuju Sang Empunya Segala semesta. Tentang kegagalan memaknai hidup yang hanya sebentar. Tentang dangkalnya keyakinan yang tidak cukup berakar. Tentang rapuhnya pendirian yang tidak berdasar. Juga tentang lemahnya motivasi yang mudah pudar.
Keinginan untuk berbuat benar serta upaya agar hari-hari yang dilalui menjadi semakin baik, kalah melawan musuh-musuh perampok umur, hawa nafsu, setan, dan kesenangan dunia. Hingga tubuh yang bertambah uzur, tak juga menambah amalan luhur. Ia gugur bersama kemestian berakhirnya nafas yang tak lagi teratur. Kaku membujur di liang kubur.
Ahlul ghurur adalah mereka yang terjerumus dalam perangkap mematikan; lalai melakukan muhasabah dalam hidup. Mereka acuh karena merasa tidak butuh. Padahal ialah salah satu penjamin kebaikan bagi manusia, insyaallah. Hingga ahlul ghurur abai akan pengumpulan bekal untuk menghadap Sang Khalik di alam kekal, nanti, meski hari terus berganti dan berlari.
Menutup mata dari akibat sebuah perbuatan adalah salah satu ciri mereka. Mereka lupa atau tidak tahu bahwa setiap apa yang dilakukan manusia akan kembali pada dirinya sendiri dalam wujud balasan yang setimpal. Baik maupun buruk, sedikit maupun banyak, serta tersembunyi maupun tampak. Allah Mahaadil dan tidak ada satu perbuatan pun yang tidak berbalaskan. Dan kebaikan tidak akan pernah sama dengan keburukan, sekecil apapun.
Ciri yang lain adalah larut dalam keadaan. Tidak berdaya mempertahankan prinsip kebenaran sebab mengandung risiko. Sekedar menjadi penggembira, tertawa bersama yang lain meski harus acuhkan batin yang merintih. Mereka ingin hidup ‘aman’ dan ‘nyaman’. Tak inginkan celaan, makian, umpatan, dan penolakan karena kesemuanya sangat menyakitkan. Dan itu bermakna, bagi mereka, meminimalisasi gangguan dari lingkungan sekitar. Sehingga larut dalam keadaan menjadi sebuah keharusan. Bukankah tidak ada yang perlu ditakutkan jika kita mengikut dan menjadi serupa dengan yang lain? Ia adalah sebuah kawasan nyaman, comfort zone!
Terlalu mengandalkan ampunan Allah adalah tanda berikutnya. Meski selintas tidak ada yang salah dengan keyakinan bahwa Allah Maha Pengampun, bahkan untuk kesalahan sebanyak buih di lautan, tetapi mengandalkannya secara berlebihan menjadi kontraproduktif. Tidak seimbang menyertakan fakta selainnya, bahwa Allah juga Mahaadil dan Mahacepat hisabNya.
Dengan semua tanda ini, ahlul ghurur mudah jatuh dalam lembah dosa, sebab yang hak dan batil tampak serupa. Kemudian menikmati hidup dalam gelimang kesia-siaan berkepanjangan, hingga sulit berpisah ketika kebenaran terkadang datang menyapa, karena sudah menjadi kebiasaan . Tapi, benarkah kehidupan seperti ini yang kita inginkan? Wa iyyadzubillah.

http://www.arrisalah.net/kajian/2010/11/jangan-tinggalkan-muhasabah.html

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.